EXEIdeas Template Store

Hi, You Like This Blogger Template Then You Can Download It At Netzspot.Blogspot.

Rabu, 03 April 2013

Sejarah ringkas perjalana al imam al Bukhori

This Article Was Live On: 10.22 And Till Now Have Tidak ada komentar. EXEIdeas Template Store
Kelahirannya
Imam al-Bukhari dilahirkan di Bukhara setelah
shalat Jum’at, 13 Syawal 194 H. Ayahnya
meninggal ketika beliau masih kecil dan
meninggalkan banyak harta yang cukup untuk
hidup dengan baik dan terhormat. Dia dibina
dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan
penuh perhatian. Sejak kecil, ia selalu
mendapatkan lindungan dan bimbingan Allah.
Ada riwayat yang mengatakan bahwa pada
waktu kecil, matanya tidak bisa melihat. Ibunya
sangat sedih karenanya, dan selalu berdoa
untuk kesembuhannya. Lalu dia bermimpi
bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihis Salam
yang berkata: “Wahai ibu, Allah telah
menyembuhkan penyakit mata anakmu karena
doamu”. Esok harinya sang ibu melihat mata
anaknya sudah bercahaya. Maka duka hati ibu
berganti dengan kegembiraan.
Kecerdasan dan Keunggulannya
Kecerdasan imam al-Bukhari sudah tampak
sejak kecil. Allah menganugerahi daya hafalan
yang sangat kuat, jiwa yang cemerlang. Ketika
berusia sepuluh tahun, beliau sdah banyak
menghafal hadits. Kemudian dia menemui para
ulama dan imam di negerinya untuk belajar
hadits, bertukar fikiran dan berdiskusi dengan
mereka. Sebelum berusia enam belas tahun, dia
sudah hafal kitab Ibnu Mubarak dan Waki’, serta
memahami pendapat ahlu ra’yi (rasionalis),
ushul dan mahdzab mereka.
Perjalanan ke Makkah dan Madinah
Pada tahun 210 H, imam al-Bukhari bersama
ibunya dan saudaranya pergi ke Baitullah untuk
menunaikan ibadah Haji. Kemudian saudaranya
yang berusia lebih tua dari dia pulang ke
Bukhara. Sedangkan dia memilih tinggal di
Makkah, salah satu tempat pusat menimba ilmu
di Hijaz. Di kota itulah dia menempa diri untuk
mereguk ilmu yang diinginkan. Kadangkala dia
pergi ke Madinah. Di kedua kota suci itulah dia
menulis sebagian karyanya dan menyusun
dasar-dasar Jami’ush Shahih.
Beliau menulis Tarikh Kabir di sisi makam
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan
sering menulis di malam hari di bawah terang
bulan. Dan mengarang tiga kitab Tarikh ash-
Shaghir (yang kecil), al-Ausath (yang sedang)
dan al-Kabir (yang besar). Ketiga buku itu
menunjukkan kemampuannya yang luar biasa
mengenai rijalul hadits. Sehingga dia pernah
berkata, “Sedikit sekali yang belum aku ketahui
riwayat orang-orang yang kutulis dalam tarikh
itu”.
Lawatannya ke Berbagai Negeri
Imam al-Bukhari telah melakukan perjalanan ke
berbagai negeri dan hampir seluruh negeri
Islam disinggahinya. Beliau pernah berkata,
“Saya telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua
kali, Basrah empat kali, dan saya bermukim di
Hijaz selama enam tahun dan tak dapat dihitung
lagi berapa kali saya pergi ke Kufah dan
Baghdad untuk menemui ulama hadits.
Baghdad pada waktu itu ibukota dinasti
Abbasiyyah, adalah gudang ilmu pengetahun
dan ulama. Di negeri itu beliau sering menemui
Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad
menganjurkan untuk tinggal di Baghdad, dan
melarangnya tinggal di Khurasan.
Dalam setiap perjalanannya, imam al-Bukhari
selalu mengumpulkan dan menulis hadits. Di
tengah malam beliau bangun menyalakan
lampu dan menulis setiap yang terlintas di
benaknya, kemudian lampu dimatikan. Hal ini
kurang lebih dilakukan duapuluh kali setiap
malam. Begitulah aktivitas imam al-Bukhari,
seluruh hidupnya dicurahkan untuk ilmu
pengetahuan.
Ketegangan antara Al-Bukhari dan Zuhali
Pada tahun 250 H, imam al-Bukhari
mengunjungi Naisabur, dan penduduknya
menyambut gembira atas kedatangannya,
termasuk ulama besar az-Zuhali beserta ulama
lainnya. Muslim meriwayatkan, ketika
Muhammad bin Ismail tiba di Naisabur, aku
belum pernah melihat seorang gubernur
beserta seluruh ulama daerah itu memberikan
sambutan seperti yang mereka berikan kepada
al-Bukhari. Mereka menyambut kedatangannya
dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (88
atau 132 kilometer).
Az-Zuhali berkata: “Barangsiapa yang ingin
menyambut Muhammad bin Ismail besok,
hendaklah ia menyambutnya, sebab aku juga
ikut menyambutnya”. Pagi harinya,
Muhammad bin Yahya az-Zuhali beserta
seluruh ulama Naisabur menyambut
kedatangan imam al-Bukhari. Beliau pun
memasuki negeri itu dan tinggal di
perkampungan orang-orang Bukhara. Selama
menetap di negeri itu, Al-Bukhari mengajar
hadits. Az-Zuhali menganjurkan para penduduk
agar belajar kepada al-Bukhari. Dia berkata,
“Pergilah kalian kepada orang shaleh dan alim
itu, dan belajarlah kepadanya”.
Fitnah
Sebagian orang yang meras iri
menghembuskan angin fitnah dengan
menuduh al-Bukhari berkata, “Al-Qur’an itu
maghluk”, sehingga menimbulkan kemarahan
gurunya az-Zuhali kepadanya. Dia berkata,
“Barangsiapa berpendapat bahwa lafazh al-
Qur’an itu adalah maghluk, maka dia adalah ahli
bid’ah, ia tidak boleh ditemui dan majelisnya
tidak boleh dikunjungi. Setiap yang datang
kepadanya hendaklah dicurigai”. Akibatnya
orang-orang mulai menjauhinya, kecuali
Muslim dan Ahmad bin Salamah. Az-Zuhali
memperingatkan, “Siapa yang berpendapat
bahwa al-Qur’an itu maghluk, tidak boleh
menghadiri majelis kami”. Rupanya perkataan
itu ditujukan kepada Muslim yang masih sering
mendatangi al-Bukhari. Mendengar ucapan
seperti itu, Muslim mengambil selendangnya
dan meninggalkan majelis az-Zuhali, disaksikan
oleh murid-murid lainnya. Kemudian ia
mengirimkan catatan pelajaran yang
diterimanya dari az-Zuhali.
Al-Bukhari Bebas dari Tuduhan
Sebenarnya imam al-Bukhari bebas dari
tuduhan itu. Ada satu riwayat yang
mengatakan, seorang lelaki berdiri di
hadapannya lalu bertanya, “Bagaimana
pendapatmu tentang lafazh al-Qur’an, maghluk
atau bukan?” Al-Bukhari berpaling dari orang itu
dan tidak menjawabnya, meskipun orang itu
sudah bertanya tiga kali. Orang itu terus
mendesaknya, akhirnya al-Bukhari menjawab,
“Al-Qur’an itu firman Allah, bukan maghluk.
Perbuatan manusia adalah maghluk dan fitnah
adalah bid’ah”. Yang dimaksud dengan
“perbuatan maghluk” adalah “bacaan atau
ucapan maghluk”. Pendapat yang dikatakan
oleh al-Bukhari itu adalah pendapat para ulama
salaf mengenai perbedaan antara “Bacaan” dan
“yang dibaca”. Tetapi karena sudah dirasuki oleh
perasaan benci dan iri, membuat mereka buta
dan tuli.
Sebuah riwayat menceritakan al-Bukhari pernah
berkata, “Iman adalah perkataan dan perbuatan,
bisa bertambah atau berkurang. Al-Qur’an
adalah Kalam Allah, bukan maghluk. Shahabat
utama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam
adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
Dengan berpegang pada keyakinan dan
keimanan inilah aku hidup, mati dan
dibangkitkan kembali, Insya Allah”.
Beliau juga pernah berkata: “Barangsiapa yang
menuduhku berpendapat bahwa lafazh al-
Qur’an itu adalah maghluk, maka dia adalah
pendusta”.
Maka az-Zuhali bertambah marah kepadanya,
dan berkata, “Orang itu tidak boleh tinggal
bersamaku di negeri ini”. Lalu al-Bukhari
berpendapat, keluar dari negeri ini adalah lebih
baik baginya, demi menjaga nama baik dan
meredakan fitnah yang menimpanya. Dan
beliau pun keluar dari negeri itu.
Pulang ke Bukhara
Setelah keluar dari Naisabur, al-Bukhari pulang
ke negerinya sendiri, Bukhara. Masyarakat
negeri itu memeriahkan kedatangannya dan
mendirikan tenda-tenda sejauh tiga mil dari
kota. Seluruh rakyat menyambutnya dengan
menabur uang dinar dan dirham sebagai
ungkapan rasa kegembiraan mereka. Selama
tinggal di negerinya sendiri, beliau mengadakan
pengajian dan pengajaran hadits.
Namun fitnah berhembus lagi menimpa dirinya.
Penguasa Bukhara Khalid bin Muhammad az-
Zuhali mengirimkan utusan kepada Imam al-
Bukhari, agar ia mengirimkan dua buah
karangannya al-Jami’ush Shahih dan Tarikh.
Namun beliau keberatan memenuhi permintaan
itu. Melalui delegasi itu, ia berpesan kepada
Khalid, “Aku tidak akan merendahkan ilmu
dengan membawanya ke istana. Jika sikap ini
tidak berkenan di hati tuan, engkau adalah raja
dan berkuasa melarang saya untuk mengajar.
Agar di hari kiamat nanti, aku mempunyai
alasan di sisi Allah bahwa sebenarnya aku tidak
menyembunyikan ilmu”. Mendengar jawaban
seperti itu, raja marah dan berusaha mencari
alasan yang dapat mengeluarkan al-Bukhari dari
negerinya, dengan membuat fitnah yang dapat
menyudutkan beliau. Akhirnya imam al-Bukhari
diusir dari negeri itu.
Imam al-Bukhari mendoakan tidak baik
terhadap Khalid yang telah mengusirnya secara
tidak sah. Kurang dari sebulan kemudian, Ibnu
Tahir menjatuhi hukuman kepada Khalid. Dia
dipermalukan di muka umum dengan
menunggang keledai betina, dia dihina dan
dipenjara.
Imam Al-Bukhari Wafat
Penduduk Samarkand memohon kepada imam
al-Bukhari agar menetap di negeri mereka.
Beliau pergi untuk memenuhi keinginan itu.
Ketika sampai di Khartand – desa kecil yang
terletak enam mil dari kota Samarkand, beliau
singgah di kota itu, untuk mengunjungi
saudaranya yang masih hidup di daerah itu. Di
desa itu, imam al-Bukhari jatuh sakit dan
menemui ajalnya.
Beliau wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H
(31 Agustus 870 M) dalam usia 62 tahun kurang
13 hari. Sebelum wafat, beliau berpesan agar
jenazahnya dikafani tiga helai, tanpa baju dan
sorban. Jenazahnya dimakamkan setelah
zhuhur di hari idul fitri itu. Dia telah menempuh
perjalanan hidup yang panjang dihiasi amal
yang mulia. Semoga Allah melimpahkan
rahmat dan ridha-Nya kepadanya.
Guru Imam Al-Bukhari
Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, imam
al-Bukhari bertemu dengan guru-guru
terkemuka yang dapat dipercaya. Beliau
mengatakan, “Aku menulis hadits dari 1.080
guru, yang semuanya adalah ahli hadits dan
berpendirian bahwa iman itu adalah ucapan dan
perbuatan”. Diantara para guru itu adalah Ali bin
al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in,
Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Maki bin
Ibrahim al-Balkhi, Muhammad bin Yusuf al-
Baykandi dan Ibnu Rahawaih. Jumlah guru
yang haditsnya diriwayatkan dalam kitab
Shahihnya sebanyak 289 guru.
Murid-Murid Imam Al-Bukhari
Orang yang meriwayatkan hadits dari imam al-
Bukhari tidak terhitung jumlahnya, sehingga ada
yang berpendapat ada sekitar 90.000 orang
yang mendengar langsung dari imam al-
Bukhari. Diantara sekian banyak muridnya yang
paling menonjol ilaha Muslim bin Hajjaj, at-
Tirmidzi, an-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abu
Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi,
Ibrahim bin Mi’yal al-Nasafi, Hammad bin Syakir
al-Nasawi dan Manshur ibn Muhammad al-
Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini adalah
perawi shahih al-Bukhari yang termasyhur.
Al-Bukhari Dikarunia Kekuatan Hafalan dan
Kecerdasan Luar Biasa
Kekuatan hafalan, kecerdasan, pengetahuan
tentang perawi hadits dan ilatnya yang terdapat
pada al-Bukhari, merupakan salah satu tanda
kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, Allah telah
memeliharanya dan para penghimpun hadits
yang lainnya, untuk menghafal dan menjaga
sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa
sallam. Imam al-Bukhari berkata, “Saya hafal
hadits di luar kepala sebanyak 100.000 hadits
shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih”.
Kekuatan hafalan imam Al-Bukhari, keluasan
pengetahuannya dan kecerdasannya sangat
mengagumkan. Ketika beliau tiba di Baghdad,
ulama hadits berkumpul untuk menguji
kemampuannya. Mereka mencampur aduk dan
memutar balik sanad dan matan 100 hadits.
Matan hadits satu diberi sanad hadits lainnya,
dan sanad hadits yang satu diberi matan hadits
lainnya. Sepuluh ulama tampil dengan masing-
masing membawa sepuluh hadits yang sudah
tidak karuan itu. Orang pertama mengajukan
sepuluh hadits, setelah selesai membacanya,
imam al-Bukhari mengatakan, “Saya tidak
mengetahi hadits yang anda baca tadi”. Sampai
kepada penanya yang kesepuluh, imam al-
Bukhari tetap mengatakan seperti itu. Hadirin
yang tidak tahu, memastikan al-Bukhari tidak
akan mampu menjawabnya. Sedangkan para
ulama saling berkata, “Hebat benar orang ini”.
Setelah para penguji selesai membaca hadits-
hadits itu, imam al-Bukhari melihat penanya
pertama dan berkata, “Hadits pertama tadi,
yang benar isnadnya adalah begini”.
Demikianlah imam al-Bukhari menjawab satu
persatu dari sepuluh hadits itu. Lalu dia menoleh
kepada penanya kedua sampai kesepuluh. Dia
menyebutkan hadits yang sudah
diputarbalikkann itu, lalu membaca isnad dan
matan hadits yang sebenarnya tanpa ada
kesalahan sedikitpun. Maka para ulama Baghdad
menyatakan kekagumannya atas kecerdasan
dan hafalan imam al-Bukhari serta memberi
gelar kepadanya “Imam Hadits”.
Sebagian hadirin mengatakan, “Yang
mengagumkan, bukanlah ia mampu menjawab
secara benar, melainkan bagaimana dia mampu
menyebutkan hadits yang sanad dan matannya
tidak karuan seperti yang telah dibacakan sang
penanya padahal dia hanya mendengar sekali
saja”.
Imam al-Bukhari pernah berkata, “Saya tidak
akan meriwayatkan hadits yang kuterima dari
shahabat dan tabi’in sebelum aku mengetahui
tanggal kelahiran, hari wafatnya dan tempat
tinggalnya. Aku juga tidak akan meriwayatkan
hadits mauquf dari shahabat dan tabi’in kecuali
ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan
Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
sallam”.
Pujian Para Ulama
Karena keluasan ilmu dan kekuatan hafalannya,
maka para guru, kawan dan generasi
sesudahnya memujinya. Seseorang pernah
bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang
imam al-Bukhari, beliau menjawab “Saya telah
berjumpa dengan ahli hadits, ahli ra’yi, ahli fiqih,
ahli ibadah dan orang zuhud. Namun saya
belum pernah bertemu dengan orang seperti
Muhammad bin Ismail al-Bukhari”.
Abu Bakar Ibnu Khuzaimah mengatakan
“Dikolong langit ini tidak ada ahli hadits yang
melebihi Muhammad bin Ismail”. Abu Hatim ar-
Razi berkata, “Khurasan belum pernah
melahirkan seorang yang melebihi al-Bukhari. Di
Irak pun tidak ada yang melebihi dirinya”.
Al-Hakim menceritakan dengan sanad lengkap
bahwa Muslim yang menulis kitab Shahih
Muslim, datang dan mencium antara kedua
mata al-Bukhari dan berkata, “Guru, biarkan aku
mencium kedua kakimu. Engkaulah imam ahli
hadits dan dokter penyakit hadits”. Sanjungan
dari generasi sesudahnya cukup diwakili oleh
Ibnu Hajar al-Asqalani yang berkata,
“Seandainya pintu pujian dan sanjungan masih
terbuka bagi generasi sesudahnya, niscaya
kertas dan nafas akan habis, karena ia bagaikan
laut yang tidak berpantai”.
Sifat dan Akhlak Imam Al-Bukhari
Imam al-Bukhari berbadan kurus,berperawakan
sedang, kulitnya kecoklatan, makannya sedikit,
pemalu, pemurah, dan zuhud. Hartanya banyak
disedekahkan baik secara terang-terangan atau
tersembunyi, terutama untuk kepentingan
pendidikan dan para pelajar. Beliau memberikan
dana yang cukup besar kepada para pelajar. Dia
pernah berkata, “Sebulan penghasilan saya 500
dirham, semuanya untuk kepentingan
pendidikan, sebab yang ada di sisi Allah itu lebih
baik dan kekal”.
Imam al-Bukhari sangat berhati-hati dan sopan
berbicara, terutama dalam mengkritik para
perawi. Terhadap perawi yang diketahui jelas
kebohongannya, ia cukup mengatakan fiihi
nadzoruun (perlu dipertimbangkan), tarokuuhu
(ahli hadits meninggalkannya), sakatuu ‘anhu
(mereka tidak menghiraukannya). Perkataan
yang tegas terhadap perawi yang tercela adalah
munkarul hadiits (haditsnya diingkari).
Meskipun beliau sangat sopan dalam mengkritik
perawi, namun ia meninggalkan hadits dari
perawi yang diragukan. Beliau berkata, “Saya
meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan
oleh perawi yang dipertimbangkan, dan juga
meninggalkan hadits yang jumlahnya sama
atau lebih karena menurut pandanganku,
perawinya perlu dipertimbangkan”.
Imam al-Bukhari merupakan contoh yang
sangat berhati-hati dalam mengkritik perawi.
Maka dari itu wajarlah jika cara kritiknya
diteladani.
Menghormati Ilmu
Imam al-Bukhari memiliki jiwa mulia,
terhormat, sangat membanggakan dan
memuliakan ilmu, juga senantiasa menjaga
agar ilmunya tidak direndahkan dan tidak
dibawa-bawa ke tempat para penguasa.
Ketegangan yang terjadi antara dia dengan
Gubernur Bukhara, Khalid bin Ahmad az-Zuhali,
karena beliau menolak mengajar Khalid dan
para puteranya. Sikap seperti ini merupakan
sifat terpuji para ulama rabbani yang tidak takut
kecuali hanya kepada Allah, dan tidak mau
mengajar karena mengharap kemewahan dan
kedudukan. Dalam sejarah Islam, banyak para
ulama bersikap seperti itu, terutama pada
zaman keemasan Islam yang pertama.
Pandai Memanah
Imam al-Bukhari pernah belajar memanah
sampai mahir, sehingga ada yang mengatakan
bahwa sepanjang hidupnya hanya dua kali
panahnya meleset dari sasaran. Karena dilandasi
oleh hadits Rasul yang menganjurkan kaum
muslimin belajar memanah dan berperang.
Tujuan al-Bukhari belajar memanah adalah
untuk persiapan memerangi musuh Islam dan
mempertahankan diri dari kejahatan mereka.
Sebaliknya, disamping dengan lisan, para ulama
mempersiapkan diri untuk berjihad
mempertahankan Islam, sehingga apabila ada
panggilan jihad, mereka menjadi pelopor
pertama yang menghadapi musuh.
Dalam sejarah islam, banyak sekali ulama yang
menjadi pelopor jihad, seperti ‘Izzudin bin
Abdus Salam dan Taqiyudin Ahmad ibn
Taimiyah. Mereka mempunyai andil besar
dalam mengobarkan semangat berjihad untuk
memilah yang hak dengan yang batil.
Karya-Karya Imam Al-Bukhari
Imam al-Bukhari mempunyai karya tulis cukup
banyak, antara lain:
1. al-Jamu’us Shahih
2. Adabul Mufrad
3. At-Tarikh ash-Shaghir
4. At-Tarikh al-Ausath
5. At-Tarikh al-Kabir
6. At Tafsir al-Kabir
7. al-Musnad al-Kabir
8. Kitabul I’lal
9. Raf’ul Yadain fis Salah
10. Birrul Walidain
11. Kitabul Asyribah
12. Al-Qira’ah Khalfal Imam
13. Kitab ad-Du’afa
14. Asami as-Sahabah
15. Kitab al-Kuna

You Like It, Please Share This Recipe With Your Friends Using...

Don't Forget To Read This Also...

Tidak ada komentar :

Speak Your Mind: