EXEIdeas Template Store

Hi, You Like This Blogger Template Then You Can Download It At Netzspot.Blogspot.

Kamis, 04 April 2013

Ziarah kubuR dalam kaca mata islam

This Article Was Live On: 00.32 And Till Now Have Tidak ada komentar. EXEIdeas Template Store
'Ziarah Kubur Kok Dibilang Syirik?''
Di Indonesia fenomena ziarah kubur banyak kita
jumpai, sebut saja makam para Wali Songo,
sebagai (orang-orang yang turut) menyebarkan
agama Islam di Indonesia, tidak pernah sepi dari
para peziarah.
Tapi di sisi lain
ada yang menyebutkan bahwa
kegiatan ini termasuk syirik. Nah loh, oleh karena
hal itu kita pelajari bersama-sama secara
mendalam. Kenapa? karena syirik kita sepakati
adalah dosa yang paling besar (seperti tersebut
dalam AlQuran dan Hadits), lebih besar daripada
membunuh.
Kuburan merupakan salah satu ajang kekufuran
dan kesyirikan di masa jahiliyah. Terbukti hal yang
demikian dengan firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala:
“Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)
menganggap Al-Lata dan Al-’Uzza dan Manat yang
ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak
perempuan Allah). Apakah patut untuk kamu
(anak) laki-laki dan untuk Allah anak perempuan.
Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang
tidak adil.” (An-Najm: 19-22)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
“Termasuk dari tipu daya setan yang telah
menimpa mayoritas orang sehingga tidak ada
seorangpun yang selamat-kecuali orang-orang
yang dipelihara oleh Allah- yaitu “Apa-apa yang
telah dibisikkan para setan kepada wali-walinya
berupa fitnah kuburan.” (Ighatsatul Lahfan, 1/182)
Yang mengawali terjadinya fitnah besar ini adalah
kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagaimana telah
diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang
mereka:
“Nuh berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya mereka
telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-
orang yang harta dan anak-anaknya tidak
menambah kepadanya melainkan kerugian belaka.
Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan
mereka berkata jangan sekali-kali kamu
meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian
dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan
(penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’,
Yaghuts, Yauq dan Nasr. Dan sesungguhnya
mereka menyesatkan kebanyakan manusia. Dan
janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang
yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh: 21-24)
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam riwayat Al-
Bukhari menyatakan: “Mereka adalah nama-nama
orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam.
Ketika orang-orang shalih itu mati, tampillah setan
menyampaikan kepada orang-orang agar
mendirikan di majelis-majelis mereka gambar
orang-orang shalih tersebut dan namakanlah
dengan nama-nama mereka! Orang-orang pun
melakukan hal tersebut dan belum disembah,
sampai ketika mereka meninggal dan ilmu semakin
dilupakan, maka gambar-gambar itu pun
disembah.”
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: “Bukan
hanya satu ulama salaf yang mengatakan: ‘Mereka
adalah orang-orang shalih dari kaum Nuh. Tatkala
mereka meninggal, orang-orang i’tikaf di kubur-
kubur mereka lalu membuat patung-patung
tersebut hingga masa yang sangat panjang, lalu
menjadi sesembahan.” Kemudian beliau
mengatakan: “Mereka telah menghimpun dua
fitnah yaitu fitnah kubur dan fitnah
menggambar.” (Ighatsatul Lahfan, 1/184)
''Loh kok disamain sih, kan orang zaman dahulu
menyembah patung, itu jelas-jelas perbuatan
syirik?''
Sisi persamaan disini pada pengagungan yang
berlebihan terhadap orang yang sholeh. Awalnya
mereka para orang shalih tidak disembah. Seperti
juga keadaan makam-makam yang dianggap
keramat, bermacam-macam tanggapan orang.
Ada yang hanya digunakan sebagai tempat berdoa
kepada Allah, mencari barokah, mencari petunjuk,
mensucikan pusaka, selamatan, dan banyak yang
lainnya. Coba kita cermati dan renungkan.
''Kan di kuburan kita tidak beribadah kepada
kuburan itu, hanya berdoa kepada Allah.''
Mari kita baca hadits-hadits berikut ini:
Hadits Abu Martsad Al Ghanawi, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kalian shalat menghadap ke
kubur.” (HR. Muslim)
Hadits Anas bin Malik:
“Sesungguhnya Nabi Muhammad melarang shalat
diantara kuburan-kuburan.” (HR. Al Bazzar no. 441,
Ath Thabrani di Al Ausath 1/280)
Hadits Abu Sa’id Al Khudri
“Bumi dan seluruhnya adalah masjid kecuali
kuburan dan kamar mandi.” (HR. Abu Dawud, At
Tirmidzi, Ibnu Majah)
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian
seperti kuburan dan jangan pula kalian menjadikan
kuburanku sebagai tempat yang selalu dikunjungi.
Karena di manapun kalian bershalawat untukku,
akan sampai kepadaku.” (HR. Abu Dawud)
Dan jenis perbuatan ini pun juga masuk dalam
larangan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam:
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara
karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka
sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156,
Muslim, 2/67 dan lainnya)
Karena makna menjadikan kuburan sebagai masjid
mencakup membangun masjid di atas kuburan
dan juga mencakup menjadikan kuburan sebagai
tempat sujud (ibadah) ataupun berdo’a walaupun
tidak ada bangunan di atasnya. Kecuali berdo’a
untuk si mayit, karena inilah yang dianjurkan
dalam agama. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 279 karya
Asy Syaikh Al Albani dan Al Qaulul Mufid 1/396)
''Ketika berdoa di kuburan, kami hanya menjadikan
para wali sebagai perantara (tawasul) kepada
Allah.''
Jika perbuatan ini benar, niscaya tidak akan
ditinggal oleh para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam kepada kuburan imam para Rasul yaitu
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka tentu akan berlomba-lomba untuk
melakukannya dan tentu akan teriwayatkan dari
mereka setelah itu. Berdasarkan sisi ini jelas bahwa
perbuatan ini diada-adakan, termasuk perkara baru
dan merupakan satu kebid’ahan di dalam agama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang
tidak ada perintahnya dari kami maka dia
tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu
‘anha).
''Loh ada syariat Rasulullah untuk berziarah
kubur…!''
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah
kubur, (kini) berziarahlah, agar ziarah kubur itu
mengingatkanmu berbuat kebajikan.” (HR. Ahmad,
hadits sahih)
“Ziarahilah kuburan karena sesungguhnya ziarah
kubur itu mengingatkan kepada kematian.”(Muslim)
Memang benar bahwasanya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam mensyariatkan untuk ziarah
kubur, tapi dari hadits-hadits diatas kita bisa
menyimpulkan bahwa tujuan dari ziarah kubur
adalah mengingatkan kepada kematian,
mendoakan si mayit, dan amalan sunnah lainnya.
Bukan untuk sholat, membaca Al-Quran, berdoa
untuk dirinya dengan perantara si mayit, menabur
bunga, memberikan sesaji, dan hal-hal yang
dilarang lainnya.
Aku (‘Aisyah) berkata : “Apa yang harus aku
ucapkan kepada mereka (penghuni kuburan) wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab : “Katakanlah :
Semoga keselamatan tercurah bagi para penghuni
kuburan ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin.
Dan semoga Allah merahmati orang yang
terdahulu dan orang yang belakangan dari kita.
Dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.” (HR.
Muslim, An Nasa’i, Abdurrazzaq, dan Ahmad)
“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan
jangan pula duduk di atasnya.” (HR. Muslim)
“Dan hendaklah mereka melakukan tha’waf di
sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah,
Ka’bah).” (AI-Hajj: 29). Tidak thawaf di kuburan.
“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan.
Sesungguhnya setan lari dari rumah yang
dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR.
Muslim)
“Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak
memberi manfaat dan tidak (pula) memberi
mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu
berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya
kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang
zhalim.” (Yunus: l06)
(Orang-orang yang zhalim adalah musyrikin).
Dilarang membangun di atas kuburan atau menulis
sesuatu dari Al-Quran atau syair di atasnya. Sebab
hal itu dilarang,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang
untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan
membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim,
3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, At-Tirmidzi 2/155,
dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, 3/339 dan 399).
Cukup meletakkan sebuah batu setinggi satu
jengkal, untuk menandai kuburan. Dan itu
sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam ketika meletakkan sebuah batu di
atas kubur Utsman bin Mazh’un, lantas beliau
bersabda,
“Aku memberikan tanda di atas kubur
saudaraku.” (HR. Abu Daud, dengan sanad hasan).
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani
karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka
sebagai sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari,
3/156, 198 dan 8/114, Muslim, 2/67, Abu ‘Awanah,
1/399, Ahmad, 6/80, 121, 255 dan lainnya)
''Kalau begitu kafir dong yang suka ziarah di
makam-makam wali dan tempatnya di neraka.''
Eits…, tunggu dulu. Untuk menghukumi seseorang
secara khusus kafir butuh tahapan dan tidak asal
dia melakukan perbuatan kekafiran langsung dicap
kafir, siapa yang melakukan bid’ah dicap ahlul
bid’ah. Harus diteliti terlebih dahulu apakah
pelakunya sudah diingatkan atau belum. Begitu
bro, makanya sebelum coment baca dulu baik2
sampai ngerti :)
Terlebih lagi masalah neraka dan syurga ini adalah
rahasia Allah, bahkan kepada orang non-Islam
yang masih hidup kita tidak boleh berkata “kamu
masuk neraka!”, karena bisa saja di akhir hidupnya
dia bertaubat dan diampuni dosa-dosanya oleh
Allah.

You Like It, Please Share This Recipe With Your Friends Using...

Don't Forget To Read This Also...

Tidak ada komentar :

Speak Your Mind: