EXEIdeas Template Store

Hi, You Like This Blogger Template Then You Can Download It At Netzspot.Blogspot.

Senin, 14 Juli 2014

Cerita Romantis Dari Cina

This Article Was Live On: 04.25 And Till Now Have Tidak ada komentar. EXEIdeas Template Store

KUBAYANGKAN ES MENGAPUNG di atas sungai ketika tengah mencair, begitu tipis dan rapuh. Es itu tak tampak bagai es, tetapi seperti kertas nasi. Tung Chih tak pernah tahu seperti apa salju di Selatan Cina. Dia sudah terbiasa dengan Salju Peking, dengan es yang keras. Dia tak pernah diperbolehkan berseluncur di atas sungai istana yang beku; sebaliknya, dia hanya menonton sepupusepupunya bermain sepanjang hari. Hal yang masih boleh dilakukan oleh Tung Chih hanyalah mengikat tali jerami di sekitar sepatunya agar dia dapat berjalan di atas es dengan bantuan kasimkasimnya.

Dalam kenangan masa kecilku, musim salju selalu dingin dan lembap. Saat angin barat laut bertiup kencang menerpa jendela dan membuat kacakaca jendela berderak seolah ada yang mengetuknya, Ibu akan mengumumkan bahwa musim salju terdingin telah tiba. Karena temperatur tak pernah mencapai titik beku di Selatan, hanya sedikit rumah di sana yang memiliki pemanas.

Aku ingat Ibu mengeluarkan semua pakaian musim dingin kami dari peti cendana. Kami memakai jaket katun tebal, topi dan syal, serta semua orang akan berbau kayu cendana. Saat dalam rumah terlalu dingin, orangorang akan keluar ke jalan untuk mengangatkan badan mereka di bawah matahari. Sayangnya, musim dingin di Selatan sering kali tidak bermatahari. Udaranya lembap dan langit berwarna abuabu sepanjang musim dingin.

Hari ini aku terbangun di ruangan yang cukup penghangat. Li Lienying sangat lega melihatku tak menyingkirkan makananku hinaga nyaris menangis. Dia menghidangkan makanan citarasaSelatan: bubur panas dengan tahu yang diawetkan, sayurmayur dan kacangkacangan, dengan ganggang laut panggang dan biji wijen. Dia mengatakan bahwa selama ini aku sakit dan telah tertidur sepanjang hari.

Aku menengadah ke atas dan merasakan leherku kaku dan pegal. Kusadari lampionlampion merah di ruangan telah berganti putih. Pikiran akan Tung Chih kembali, dan hatiku kembali merasakan perihnya tikaman. Aku bersusah payah bangkit dari ranjang. Mataku menangkap tumpukan dokumen di atas meja.

“Apa yang mesti kuketahui?” tanyaku.

Tak ada jawaban. Li Lienying menatapku seolah tak mengerti. Kusadari bahwa aku masih terbiasa dengan cara Antehai, dan Li Lienying masih belum memahami peranannya sebagai sekretaris kasimku.

“Kaubisa terangkan dengan singkat padaku, dimulai dari cuaca.”

Li Lienying adalah pelajar yang cepat. “Angin salju telah membawa badai debu dari gurun,” dia mengawalinya, sembari membantuku berpakaian. “Kemarin malam, tungkeu arang dinyalakan di pekarangan.”

“Teruskan.”

“Li Hungchang memindahkan tentaranya dari Chihli atas perintahmu. Dia telah mengamankan Kota Terlarang. Para gubernur dari delapan belas provinsi telah bergegas kemari. Sebagian dengan keretanya dan sebagian lagi dengan menunggang kuda. Mereka sedang memasuki gerbang saat ini. Yung Lu telah diberi tahu akan situasinya dan akan datang ke sini beberapa hari lagi.”

Aku terkejut. “Aku tak memerintahkan atau memanggilnya.”

“Permaisuri Nuharoo yang melakukannya.”

“Kenapa dia tak memberi tahuku?”

“Permaisuri Nuharoo datang ke sini beberapa kali saat Yang Mulia tertidur,” Li Lienying menjelaskan, “Katakata persisnya adalah, 'Tung Chih tak meninggalkan keturunan, dan seorang Kaisar baru harus dipilih”.

“Ke Balairung Pemeliharaan Jiwa! Siapkan tandu!” perintahku.

Nuharoo tampak lega saat melihatku memasuki balairung. “Tiga kandidat sudah dipilih…” Dia menyodorkanku catatan dari diskusi hari itu, “Seluruh anggota Klan Kerajaan hadir.”

Meski rasa lelahku tak juga surut, aku berusaha tampil seolah tak pernah meninggalkan urusan Kerajaan. Kuteliti namanama kandidat itu. Kandidat pertama adalah seorang bayi berusia dua bulan bernama P'ulun, cucu dari anak sulung Kaisar Tao Kuang—saudara suamiku, Pangeran Ts'eng. Mengingat generasi “Tsai” Tung Chih diikuti oleh generasi “P'u” bayi ini adalah satusatunya kandidat yang memenuhi aturan hukum keluarga Kerajaan, yang menyebutkan bahwa penerus takhta tak bisa anggota keluarga dari generasi yang sama dengan pendahulunya.

Dengan cepat, kucoret P'ulun. Alasanku adalah karena suamiku pernah. mengatakan bahwa kakek P'ulun, Pangeran Tseng, telah diadopsi dari keturunan anggota rendah keluarga Kerajaan, jadi bukan berasal dari garis darah sesungguhnya. “Dari pendahulu kami, tak ada cucu dari anak adopsi yang menaiki singgasana,” ungkapku.

Alasan sebenarnya di balik penolakanku adalah karena aku mengetahui lelaki macam apa Ts'eng itu. Selain kegemarannya bersenangsenang, dia adalah seorang radikal politik yang korup. Dia benarbenar tidak menghormatiku, hingga saat dia mendengar tentang kematian anakku. Dia tahu aku akan memiliki kuasa untuk memilih penerusnya.

Ketika penasihat Pangeran Ts'eng, seorang pejabat Istana, menunjukkan dokumen dari catatancatatan Dinasti Ming yang membuktikan keabsahan Pangeran, kuperingatkan Dewan Istana. “Masa pemerintahan Pangeran Ming yang satu itu berakhir dengan bencana, dengan pangerannya sendiri tertangkap dan terbunuh oleh kaum Mongol.”

Kandidat terpilih kedua adalah putra sulung Pangeran Kung, Tsaichen, teman lama Tung Chih. Sekeras apa pun usahaku, aku tak bisa melupakan kenyataan bahwa dialah yang mengenalkan Tung Chih pada rumahrumah bordil. Kutolak Tsaichen dengan mengatakan, “Hukum mensyaratkan agar ayah Kaisar yang masih hidup harus mundur dari pemerintahan, dan kupikir Istana tak dapat berfungsi dengan baik tanpa peranan Pangeran Kung, “

Ingin sekali aku berteriak pada Nuharoo dan Dewan Istana: Bagaimana mungkin kita memercayakan tanggung jawab kenegaraan pada seorang hidung belang? Aku akan menyuruh Tsaichen dipenggal, kalau saja dia bukan anak pangeran Kung!

Pilihan terakhir adalah Tsait’ien, keponakanku yang berusia tiga tahun, putra dari Pangeran Ch'un, adik bungsu suamiku, yang juga suami dari saudariku, Rong. Kami terpaksa melanggar aturan “takbolehdarigenerasiyang-sama” jika memilih Tsait'ien, tetapi kami sudah kehabisan pilihan.

Pada akhirnya, baik Nuharoo dan aku, menjatuhkan pilihan pada Tsait'ien. Kami memberitahukan akan mengadopsi anak itu jika Dewan Istana menerima proposal kami. Sebenarnya, selama ini aku memang berpikir untuk mengadopsi Tsait'ien. Ide itu datang ketika kutahu ketiga anak saudariku meninggal secara “kecelakaan” ketika bayi. Kematian mereka dianggap sebagai takdir, tetapi aku sadar akan kondisi mental Rong. Pangeran Ch'un mengeluhkan kondisi istrinya yang makin memburuk, tetapi tak ada tindakan yang diambil dan Rong tidak diberikan perawatan. Aku mencemaskan kemungkinan hidup Tsait’ien begitu dia dilahirkan. Telah kusarankan pada Rong untuk menyerahkan bayinya agar diadopsi, tetapi dia tetap memaksa untuk merawatnya sendiri.

Berat badan Tsait'ien di bawah normal untuk anak seusianya dan geraknya kaku seperti kayu. Para pengasuhnya melaporkan bahwa dia menangis sepanjang malam, sementara ibunya terus meyakini bahwa memberi makan anaknya hingga kenyang akan membunuhnya.

Ayah si anak mendorongnya untuk diadopsi. “Aku bersedia melakukan apa pun untuk membantu putraku terbebas dari ibunya,” ujar Pangeran Ch'un padaku. “Apa tak cukup ketiga putraku meninggal di bawah pengasuhan saudarimu?” Ketika kusampaikan akan kekhawatiranku tentang perpisahan dirinya dari Tsait'ien, dia berkata akan baikbaik saja, mengingat dia masih memiliki beberapa anak lain dari para istri dan selirselirnya.

Selanjutnya, Dewan Istana mendengarkan laporan akan karakter dan sejarah Ayah sang kandidat. Aku tak terkejut mendengar Pangeran Ch'un dianggap sebagai lelaki “berkepribadian ganda” Kuketahui dari suamiku, Kaisar Hsien Feng, bahwa “seluruh tubuh Pangeran Ch'un akan gemetar dan jatuh pingsan jika melihat ayahnya marah.” Akan tetapi, dia juga dikenal sebagai “pembual besar” di keluarga. Pangeran Ch'un mewakili golongan garis keras dari klan Manchu. Sementara mengaku tak memiliki minat dalam politik, dia telah menjadi rival lama saudaranya sendiri, Pangeran Kung.

“Suamiku hanya bisa menjadi lelaki jujur karena kebohongankebohongannya terlalu bodoh,” saudariku sering kali berkata. Pangeran Ch'un tak hentihentinya memberitahukan pada dunia akan filosofi hidupnya. Dia selalu menunjukkan kemuakannya pada kekuasaan dan kekayaan. Di ruang tamunya, terpampang sebuah kuplet dari kaligrafinya sendiri, memperingatkan kepada anak-anaknya betapa kekayaaan akan menjatuhkan, merusak, dan menyebabkan kehancuran. “Tanpa kekuasaan berarti tanpa bahaya,” bunyi baris itu. “Dan tanpa kekayaan berarti tanpa kehancuran.” Walaupun Ch'un seorang pangeran, dia tak memiliki jabatan penting atau diserahi tugastugas negara. Akan tetapi, dia tak pernah malu untuk menuntut kenaikan pendapatan tahunannya. Dia bahkan mengkritik Pangeran Kung, mengeluhkan kompensasi yang diterima saudaranya untuk mengadakan pestapesta demi menjamu para diplomat asing.

Meski semua hambatan itu, dan dengan upaya keras Yung Lu dari belakang untuk membujuk para anggota Klan, Dewan Istana akhirnya memberikan persetujuannya atas Pangeran Ch'un. Tsait’ien dipertimbangkan dengan serius, dan akhirnya terpilih. Satusatunya rintangan tersisa adalah bahwa Tsait'ien merupakan sepupu pertama Tung Chih dan secara hukum tak dapat memimpin secara resmi menggantikan mendiang Tung Chih. Dengan kata lain, Tung Chih tak dapat mengadopsi sepupunya sebagai anak sekaligus penerus.

Setelah perdebatan yang berlangsung berharihari, Dewan Istana memutuskan untuk mengadakan kembali pungutan suara terbuka.

Di luar angin berembus, dan lampionlampion di lorong berkedip. Hasil suara dihitung: tujuh orang memilih cucu Pangeran Ts'eng, P'ulun, tiga orang memilih putra Pangeran Kung, Tsaichen, dan lima belas orang menjatuhkan suaranya pada putra Pangeran Ch'un, keponakanku, Tsait'ien.

Meski Pangeran Ch'un memberitahukan pada Dewan Istana bahwa persetujuan istrinya mengenai pengadopsian resmi Tsait'ien tidak diperlukan, aku tetap menekankan bahwa keputusanku tak akan sah tanpa adanya persetujuan dari Rong.

Rumputrumput liar setinggi lutut memenuhi pekarangan dan sulursulur menutupi jalan setapak. Di dalam wisma utama saudariku, popokpopok bayi, makanan, piring-piring, botolbotol, mainan, dan bantalbantal terserak di manamana. Kecoak melintasi ruangan dan talatlalat hingap dari satu jendela ke jendela lain. Kasim dan pelayan Rong berbisik pada Li Lienying bahwa majikan mereka tak membolehkan bersihbersih.

“Anggrek!” Rong datang menyambutku. Dia tampak seperti habis bangun tidur. Rong mengenakan piama merah jambu terang bergambar bungabunga, dan pada kepalanya, dia mengenakan topi wol yang cocok digunakan saat menghadapi badai salju. Napasnya berbau busuk. Kutanyakan bagaimana kabarnya, dan mengapa dia mengenakan topi itu.

“Makhlukmakhluk aneh telah menjajah pikiranku,” ujar Rong, mengantarku menyusuri lorong yang sangat berantakan. “Aku mengalami sakit kepala akhirakhir ini.“

Kami memasuki ruang tamu, dan dia terjatuh ke sebuah bangku besar. “Makhlukmakhluk itu telah memakanku.” Meraih baki perak yang dipenuhi kue, dia mulai memakan. “Mereka suka yang manismanis, kautahu. Mereka akan tinggalkan aku sendiri setiap kali aku makan kue. Makhlukmakhluk licik dan keji.'

Saudariku tak tagi langsing dan cantik seperti dulu. Orangorang di Wuhu dulu biasa bilang, “Ketika seorang wanita menikah dan melahirkan, dia akan berubah dari “kuntum bunga menjadi sebuah pohon.” Rong justru jadi beruang. Badannya dua kali lebih besar daripada sebelumnya. Kutanyakan bagaimana perasaannya mengetahui anaknya terpilih sebagai Kaisar.

“Aku tak tahu.” Dia mengeluarkan suara kunyahan yang berisik. “Ayahnya seorang penipu.”

Aku tanyakan apa maksudnya.

Dia menyeka mulutnya dan bersandar lebih dalam pada punggung kursi. Perutnya membuncit seperti bantal. “Aku bersyukur aku tak hamil.” Dia menyeringai. Sisa remahremah kue menempel di mulutnya. “Tetapi kukatakan pada suamiku kebalikannya.” Dia mencondongkan badannya padaku dan berbisik, “Dia berkata itu mustahil karena kami sudah tidak melakukan hal itu selama bertahuntahun. Kukatakan padanya bahwa kehamilan ini disebabkan oleh iblis.” Dia mulai terbahak. “Itu benar-benar menakutkannya!”

Aku tak tahu harus berkata apa. Ada masalah serius pada diri saudariku.

“Anggrek, kau benarbenar kurus. Kau tampak menyedihkan. Berapa berat badanmu?”

“Sedikit di atas 55 kilo,” jawabku.

“Aku merindukanmu setelah pemakaman Ibu.” Tangis Rong segera meledak. “Kau tak pernah mau mengunjungiku, kecuali kalau ada urusan penting.”

“Kautahu itu tak benar, Rong,” ucapku, merasa bersalah.

Seorang kasim datang membawakan teh.

“Bukankan sudah kuberi tahu rumah ini tak menyuguhkan teh?” Rong membentak sang Kasim.

“Kupikir mungkin tamunya ingin…”

“Keluar sana,” perintah. Rong.

Si kasim memungut cangkircangkirnya dan memberikan Li Lienying tatapan marah.

“Dasar idiot,” ujar Rong. “Tak pernah belajar.”

Kupandang saudariku. kemudian berkata pelan, “Aku ke sini ingin bertemu Tsait'ien.”

“Si kecil pengurasuang lagi tidur siang,” jawab Rong. Kami mendatangi kamar anaknya. Tsaitien sedang tidur di balik selimutnya, meringkuk seperti anak kucing. Dia sangat mirip dengan Tung Chih. Aku mendekat untuk menyentuhnya.

“Aku tak ingin anak ini.” Suara Rong terdengar begitu jelas. “Dia hanya memberiku kesusahan dan aku sudah muak padaya. Terus terang, Anggrek, dia akan lebih baik tanpaku.”

“Tolong, hentikan Rong.”

“Kau tak mengerti. Aku juga takut pada diriku sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tak merasakan cinta untuk anak ini—dia berasal dari dunia hitam. Dia membuat ketiga saudaranya mati agar dia bisa mendapatkan gilirannya memasuki tubuhku dan hidup. Saat hamil, aku sangat menginginkannya, tetapi setelah dia lahir, aku tahu aku telah membuat kesalahan besar. Aku selalu memimpikan ketiga anakku yang telah mati.” Rong mulai menangis. “Arwaharwah mereka mendatangiku untuk menyuruhku mengambil tindakan terhadap adik mereka.”

“Kau akan melupakannya, Rong.”

“Anggrek, aku tak tahan lagi. Tolong ambil anakku. Kau akan benarbenar menolongku, tetapi kau mesti berliatihati dengan rohnya yang dikuasai iblis. Dia akan merenggut ketenanganmu. Strategi liciknya adalah menangis sepanjang hari. Tak ada orang di sini yang bisa tidur! Anggrek, bantu aku. Cekik anak ini dari iblis yang merasuknya, jika perlu!”

“Rong, aku tak akan mengambilnya karena kau ingin menelantarkannya. Tsait'ien adalah anakmu, dan dia berhak mendapatkan cintamu. Biar kuberi tahu padamu, Rong, satusatunya hal yang kusesali adalah tak cukup memberikan cinta pada Tung Chih.”

“Oh, Mulan, sang pahlawan!” tangis Rong.

Terbangun oleh suara ibunya, Tsait'ien membuka matanya. Sejenak kemudian, dia menangis tanpa suara.

Seolah jijik, Rong meninggalkannya dan kembali ke kursinya.

Kuangkat Tsait'ien dan kugendong. Kuusapusap punggungnya dengan lembut. Badannya berbau air kencing.

Rong datang dan merenggut anaknya dariku. Dia menaruhnya kembali ke tempat tidur dan berkata, “Lihat, kau kasih dia hati, dia akan minta jantung!”

“Rong, dia baru tiga tahun.”

“Bukan, umurnya sudah tiga ratus tahun! Jagonya menyiksa. Dia berpurapura menangis, padahal bersenang-senang.“

Rasa marah dan sedih menyapuku. Aku merasa tak bisa tinggal di ruangan itu lebih lama. Aku mulai berjalan ke arah pintu.

Rong mengikuti. “Anggrek, tunggu sebentar.

Aku berhenti dan menengok ke belakang.

Dia menjepit hidung anak itu dengan jarijarinya.

Tsaitien mulai berteriak, berjuang mencari udara.

Rong terus menekan. “Nangis, nangis, nangis! Apa yang kauinginkan?”

Tsait'ien berusaha membebaskan diri, tetapi ibunya tak mau melepaskannya.

“Apa kaumau aku membunuhmu? Agar kaubisa diam? Mau begitu?” Rong menaruh tangannya di seputar leher Tsait'ien sampai dia tercekik. Rong tertawa histeris.

“Rong!” Aku kehilangan kendali dan menerjang ke arahnya. Kukukuku tanganku menekan pergelangan tangannya.

Saudariku berteriak.

“Lepaskan Tsait'ien!” bentakku.

Rong berusaha melawan, tetapi tak mau melepaskan anaknya.

“Dengarkan, Rong.” Kupelintir pergelangan tangannya lebih kuat. “Ini Permaisuri Tzu Hsi yang bicara. Aku akan memanggil penjaga dan kau akan didakwa karena membunuh Kaisar Cina.”

“Lelucon bagus, Anggrek!” sembur Rong.

“Kesempatan terakhir, Dik, lepaskan Tsait'ien atau kuperintahkan penangkapan dan pemenggalanmu.”

Kudorong Rong menghadap tembok dan kutekan dagunya dengan siku kananku, “Mulai dari sekarang, baik kau setuju atau tidak pada adopsi, Tsait'ien adalah putraku.”

BERSAMBUNG


Posted via Blogaway

You Like It, Please Share This Recipe With Your Friends Using...

Don't Forget To Read This Also...

Tidak ada komentar :

Speak Your Mind: