Umur adalah khazanah paling berharga setelah iman, sedetik ia berlalu, sudah tidak bisa dikembalikan lagi walau ditebus dengan harta sepenuh bumi. Di akhirat banyak orang menyesal karena melalaikan usia ini.وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُؤُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً إِنَّا مُوقِنُونَ
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". (QS. 32:12)
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِير
Dan mereka berteriak di dalam Neraka itu:"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS. 35:37)
Dengan tegas sekali Allah balik bertanya kepada mereka yang meminta tempo sekali lagi agar bisa kembali ke dunia dan beramal sholeh: “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir”, karena itu marilah kita do’akan yang sudah wafat, semoga mendapat ampunan Allah, dan kita yang masih hidup berbekal lebih siap lagi, sehingga ketika kematian tiba, walaupun kita menyesal karena tidak sempat berbuat baik lebih banyak, setidaknya tidak terlalu berat beban dosa yang harus kita pikul di akhirat kelak.
وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. (Dan ketika itu Allah menghardik:) “Hai manusia, ditipu oleh apa kamu ini sehingga berani (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (QS. 82: 4 – 6 )
Alhamdulillah kita masih diberi waktu, sehingga masih sempat mendo’akan yang telah wafat dan memperbaiki amalan kita, kita merasakan betul betapa Allah sayang pada kita, Allah Maha Penyabar, jika kita berbuat dosa tidak langsung dihukumnya, tapi diberi tempo agar bisa memperbaiki diri. Sayangnya banyak manusia yang menyianyiakan kesempatan itu. Padahal kalau Allah hukum manusia secara spontant atas setiap kesalahannya, niscaya manusia musnah dari muka bumi, sebab siapa yang tidak pernah bersalah diantara kita?
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS. 16: 61)
Allah memberi kesempatan kepada kita dengan umur yang tersedia, apakah kita mau memanfa’atkannya dengan mengisi kebaikan sebanyak-banyaknya pada timbangan hidup kita, atau kita malah menanam keburukan untuk tumbuh dalam neraca hidup kita. Allah mengingatkan pada masyarakat jahiliyah dulu, yang kebanyakan mereka berprofesi sebagai pedagang: “Bukan hanya barang yang kau jual yang ditimbang, sehingga dengan seenaknya kamu bisa mengurang-ngurangkan atau melebih-lebihkan, bahkan dirimu sendiri kelak akan ditimbang, dan kamu tidak bisa berbuat curang ketika dirimu ditimbang, pada saat itulah nasibmu ditentukan!”
Allah menugaskan dua orang malaikat untuk mencatat semua perbuatan kita, dan kelak buku itulah yang akan ditimbang. Allah berfirman dalam Al Quran : “Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya.Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan". (QS. 45: 28 – 29). Di lain ayat juga disebutkan: “Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis”. (QS. 54: 52 – 53). Kita berdiri di hadapanNya, sedang malaikat pencatat datang mendakwa kita dengan perbuatan kita sendiri: “Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi.
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam. Dan yang menyertai dia berkata: "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku". (QS. 50: 20 - 23). Jangankan orang lain, kita sendiri bisa menilai buku catatan itu ! Persoalannya adalah, siapkan kita membaca buku sejarah hidup kita dengan perasaan haru dan syukur, karena isinya penuh dengan kebaikan, atau kita malah ketakutan sendiri dengan catatan hitam sejarah hidup kita, Allah berfirman : "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu". (QS. 17:14). Di surat lain peristiwa itu dijelaskan engan begitu berkesan : Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (QS. 18: 48 - 49) Pada surat Al Haqqoh kita dapatkan gambaran yang lebih jelas tentang peristiwa terbukanya kitab catatan ini: Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini)[1]". Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.
Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal ang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:"Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini)[2], dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaan dariku". (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya!" Kemudian masukkanlah dia ke dalam api Neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta!” Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah, tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (QS. 69: 19 – 37)
فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَـئِكَ الَّذِينَ خَسِرُواْ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُواْ بِآيَاتِنَا يِظْلِمُونَ
Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka). Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. 7: 6 – 9)
Di akhirat nanti ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi ketika buku catatan amal kita ditimbang:
Kitab catatannya dihadirkan, tapi tidak ditimbang, namun dihamburkan begitu saja (QS. 25 : 22 – 30), itulah orang orang yang tidak beriman pada ayat-ayat Allah dan tidak peduli dengan hari akhirat, Allah tidak menegakkan timbangan untuk mereka (QS. 18: 103 – 106).
Kitab catatannya dihadirkan, ditimbang, ternyata keburukannya lebih banyak dari kebaikannya, maka ia diputuskan masuk ke dalam Neraka. Berapa lama ia tinggal di sana, seberapa buruk keadaannya, tergantung seberapa berat keburukannya itu dibandingkan dengan kebaikannya (QS.101: 8 – 11). Berbeda dengan orang yang kafir, setelah habis masa hukuman, mereka akan masuk ke dalam Syurga, sebab kebaikannya tetap dihargai, tidak dihamburkan seperti golongan yang pertama: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (QS. 21:47). Ketika meliat itu orang kafir berharap kalau dulunya mereka seorang Muslim, kearena seorang Muslim, kalaupun masyuk Neraka, tokh akhirnya diangkat juga ke Syurga[3] (QS. 15 : 2).
Kitab catatanya dihadirkan, ditimbang dan ternyata kebaikan dan keburukannya seimbang,maka ia tidak ditempatkan di Neraka, namun belum dimasukan ke dalam Syurga. Mereka ditempatkan di tempat penantian yang disebut A’rof, orang orang ini kenal kepada kedua golongan, baik ahli Syurga maupun ahli Neraka (karena di dunia mereka bergaul dengan keduanya). Bila melihat penghuni Neraka, mereka mengucapkan salam, sangat ingin masuk Syurga, namun belum bisa memasukinya. Bila melihat penghuni Neraka disiksa, mereka sangat khawatir kalau kalau dirinya nanti terjerumus ke dalam Neraka. Secara fisik mereka tidak disiksa, tapi bathin menderita. Pada akhirnya mereka akan masuk ke dalam syurga, setelah penantian yang lama. (QS.7: 46 – 49).
Kitab catatannya dihadirkan, ditimbang, dan dimasukkan ke dalam syurga. Mereka adalah Muslim yang kebaikannya lebih banyak dari keburukannya. Mereka adalah mukminin yang ada juga keburukannya, ada juga dosanya, namun karena setelah dijumlahkan seluruh kebaikannya ternyata lebih banyak dari keburukannya (walaupun hanya satu gram), maka mereka berada dalam kehidupan yang menyenangkan di syurga (QS. 101: 6 – 7).
Kitab catatannya ada, tetapi mereka langsung dimasukkan ke dalam syurga, tanpa harus melalui penimbangan amal. Mereka adalah orang mukmin yang syahid fi sabilillah : “……….. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka. dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka”. (QS. 47: 4 – 6). Kalimat “surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka” menunjukkan bahwa mereka sudah mengetahui syurga sebelum menginjaknya. Dan ini di jelaskan dalam banyak hadits shohieh, bahwa arwah para syuhada pada ruhnya ditempelkan di leher-leher burung syurga, sehingga mereka bisa melihat-lihat syurga walau belum menginjak tanahnya. Di dalam hadits shohieh, juga akan dimasukkan ke dalam golongan ini (orang yang masuk syurga tanpa hisab) adalah mereka yang murni bertauhid kepada Allah tanpa musyrik, mereka akan memperoleh jaminan keamanan, termasuk dari keresahan penantian di padang mahsyar (QS. 6:82).
Kita akan menjadi salah satu golongan dari mereka. Semoga Allah masukkan kita pada golongan terbaik, Aamiin Ya Robbal ‘alamiin.
Menjadi keyakinan kita, bahwa sejarah bukan hanya dipelajari, bahkan dibuat, dan kita sedang membuat sejarah kehiduan kita. Ada malaikat yang ditugaskan Allah untuk mencatat seluruh perbuatan kita. Karena itu mari kita ciptakan sejarah yang gemilang, Allahu Akbar !
Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (QS. 43:80)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkanoleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya.Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.
Dan ditiuplah sangkakala.Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam. Dan yang menyertai dia berkata:"Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku". (QS. 50: 16 – 23).





Tidak ada komentar :
Speak Your Mind: