EXEIdeas Template Store

Hi, You Like This Blogger Template Then You Can Download It At Netzspot.Blogspot.

Rabu, 10 September 2014

Syi'ah Meriwayatkan Hadits Dari Seekor Keledai Riwayat Hewan

This Article Was Live On: 20.46 And Till Now Have Tidak ada komentar. EXEIdeas Template Store
Setelah kemarin saya menulis Agama Syi'ah Dinamakan Islam Pada Zaman Siapa?. maka sekarang akan menulis lagi bagaiman keanehan agama syi'ah yang tidak pernah bisa diterima oleh akal sehat manusia. yaitu Kaum syi'ah ini mengambil ilmu dan meriwayatkan hadits dari hewan.

Diantar kesepakatan manusia secara fitrah yaitu mengambil ilmu dari Ahlinya, baik itu ilmu agama ataupun ilmu dunia. dan mereka mengganggap orang yang tidak mengambil dari ahlinya sebagai orang yang Gila, paling tidak dikatakan bodoh, dungu, pandir dan tidak berakal.

Itu ditegaskan langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firmanyaو

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

"Hendaklah kalian bertanya kepada Ahlinya (Ahli Ilmu) jika kamu tidak mengetahuinya". QS. An-Nahl. 43

Disini Allah tegaskan agar manusia senantiasa kembali kepada ahlinya jika tidak mengilmuinya. terlebih dalam ilmu agama maka kita harus memilih dari siapa kita mengambil ilmu itu sendiri, sebagaiman para salafus salih mereka sangat selektif dalam mengambil ilmu, mereka tidak mengambil ilmu dari sembarangan orang.

Sebagai contoh, Imam Ibnu sirin beliau berkata,

وعن ابن سيرين قال إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم . رواه مسلم

Dari Muhammad bin Sirin berkata,"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian."  Diriwatkan oleh Muslim.

Nah, bagaiman dengan Agama yang satu ini, mereka mengambil ilmu dari hewan. Apakah pantas ilmu atau hadits sebagai dasar dan landasan dalam beragama diambil dari hewan, hewan yang tidak punya akal. sebagaiman yang dilakukan oleh kaum syi'ah, dimana akal mereka. maka ini adalah kebodohan yang sangat nyata, anak kecilpun faham kalau ini kedunguan.

Lihatlah ini periwatan mereka dari Seekor keledai dan ini ada di kitab mereka. Ajibnya lagi riwayat tersebut terdapat dalam kitab shahih mereka yang berjudul Al Kaafi, yaitu kitab paling shahih menurut agama Syi’ah (seperti kitab Shahih Bukhari miliknya Ahlus Sunnah).

Bacalah riwayat dari mereka ini:

وَ رُوِيَ أَنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ ذَلِكَ الْحِمَارَ كَلَّمَ رَسُولَ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَقَالَ بِأَبِي أَنْتَ وَ أُمِّي إِنَّ أَبِي حَدَّثَنِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ مَعَ نُوحٍ فِي السَّفِينَةِ فَقَامَ إِلَيْهِ نُوحٌ فَمَسَحَ عَلَى كَفَلِهِ ثُمَّ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ صُلْبِ هَذَا الْحِمَارِ حِمَارٌ يَرْكَبُهُ سَيِّدُ النَّبِيِّينَ وَ خَاتَمُهُمْ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَنِي ذَلِكَ الْحِمَارَ .

Dan diriwayatkan bahwasanya Amiirul Mukminiin (‘alaihis salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuh di dalam perahu. Maka Nuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [kitab Al-Kaafiy, tepatnya pada jilid 1 halaman 237, pada Baab : Maa ‘indal-aimmah min silaahi Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wamataa’ihi [بَابُ مَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ مِنْ سِلَاحِ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وَ مَتَاعِهِ], hadits ke-9.].

Lihatlah, seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafadh : haddatsanii abiy…dst.
Inilah kejahilan kaum Syiah dalam beragama dan ilmu hadits. Siapa lagi yang sampai detik ini belum mengetahui kesesatan agama Syi’ah?

You Like It, Please Share This Recipe With Your Friends Using...

Don't Forget To Read This Also...

Tidak ada komentar :

Speak Your Mind: