selama perjalanan menuntut ilmu yang pernah berlalu kita lewati sebesar apakah pengorbanan kita terhadap ilmu yang mulia ini.?! Pengorbanan kita terhadap kebutuhan diri sendiri. Jika dibandingkan dengan Imam Malik sangatlah jauh dan jauh sekali. Walaupun pengorbanan kita tidak sebesar pengorbanan imam malik dan tentu itu tidak akan bisa, paling tidak kita memiliki semangat yang mendekati semangat beliau.
Maka tanamkanlah pada jiwa akan penting dan berharganya ilmu ini, agar kita sadar
akan penting dan mulianya ilmu. sebagaimana Imam Malik bin Anas rahimahumullah menyadari akan hal tersebut.Imam Yahya bin Ma'in mengimfakkan semua harta warisanya untuk mencari hadits hingga tidak memiliki sandal yang dia pakainya.
Imam Yahya bin Ma'in adalah salah seorang ulama jarh wa ta'dil yang sangat terkenal di zamanya. Beliau merupakn salah satu deretan dari guru-guru Imam Al bukhari dan Imam Muslim dan juga paraahli hadits yang lainnya. Beliau lahir pada masa khilafah Abu Ja'far Al manshur. Bertepatan dengan tahun 185 H. Dan ayah beliau termasuk orang kaya di zamanya dan bekerja sebagai sekertaris Abdullah bin Malik.
Disebutkan di dalam kitab-kitab sejarah, di antaranya Imam Ibnu Hajar di dalam kitabnya (Tahdzibut Tahdzib: 11/282), ketika ayah beliau wafatdan meninggalkan harta warisan yang sangat banyak yaitu sebesarsatu juta lima puluh ribu dirham (1.050.000 dirham) semuanya di infakkan untuk mencari hadits Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam, dantidak menyisakan sedikitpun dari harta warisan terebut, sehingga alas kakipun beliau tidak punya untuk di kenakan.
Subhanallah, sebuah kisah yang sangat ajaib dan aneh, jika diceritakan oleh orang biasa, kemungkinan tidak ada seorangpun yang percaya terhadap cerita ini. Namun ini sangatlah nyata dan terjadi pada zaman beliau. Telah diceritakan oleh seorang yang sangat dipercaya dan amanah begitupula berita ini tidak bisa dipungkiri oleh siapapun.
Ketika mendengar cerita ini kita terasa terpukul atas keadaan kita sa'at ini. Bagaiman tidak, keadaan mereka sangatlah jauh jika dibandingkan dengan keadaan kita pada s'at ini. Sedangkan angan angan dan cita cita kita tidak jauh berbeda dengan mereka, yaitu ingin mendapatkan ilmu yang banyak. Tapi pernahkah kita bertanya kepada diri kita masing masing, apa yang kita korbankan, apa yang kita usahakan untuk mendapatkan cita cita yang kita inginkan tersebut?. Coba tanyakan pada diri kita masing masing dan direnungkan.!!
semangat Ibnul Jauzi menuntut ilmu tidak pernah kendorwalau dalam keadaan lapar.
di dalam kitab (shoidul khotir : 2/330) Ibnul Jauzi merceritakan dirinya tentang cobaan dan rintangan yang dihadapi sejak mulai menuntut ilmu, dan bagaimana menghadapi coba'an dan rintangan tersebut dengan pahitnya kesabaran, seakan akan menelan empedu mentah mentah.
Beliau berkata; “Di saat aku merasakan manis dan nikmatnya menuntut ilmu, aku menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian, bagiku cobaan itu berubah menjadi manis dan lebih manis dari pada madu. Itu semua aku jalani tidak lain demi mendapatkan apa yang aku cari dan harapkan.
“ketika seseorang memiliki tekat tinggi yang melangit,
maka semua rintangan dan halangan menjadi suatu yang dicintai.”
“Dulu pada masa kecilku aku keluar mencari hadits hanya berbekalkan roti kering dan sangat keras, ketika hendak memakannya aku pergi dan duduk di atas sungai 'isa (nama sungai di baghdad), karna aku tidak mampu makan roti itu kecuali ketika ada air. Setiap aku makan satu suapan roti aku harus minum karna kerasnya, walaupun demikian tekat kuatku sama sekali tidak merasakanya, sebab aku hanya merasakan betapa lezatnya mendapatkan ilmu. Dan itu membuahkan hasil yang baik bagiku, yaitu tidaklah aku dikenal melainkan sebagai orang yang banyak mendengar hadits Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam, adab adab beliau, keadaan beliau dan keadaan para sahabatnya dan para pengikutnya.”
Beliau juga berkata: “Aku tidak pernah merasa cukup dengan satu bidang ilmu, bahkan aku belajar hadits, fiqh, bahasa, dan juga bidang ilmu lainnya, dan tidak pernah meninggalkan satu perawi haditspun kecuali aku mendengar darinya begitupula para pemberi nasihat. Dan tidaklah ada orang asing melainkan aku menghadirinya dan mengambil ilmu darinya.”
“Aku selalu keliling dari syaikh ke syaikh yang lain untuk mendengarkan hadits, ketika itu tidak jarang aku menemukan musuh musuh yang ingin mematahkan semangatku, bahkansering kali akuberada di pagi hari dalam keadaan tidak memiliki apapun dari makanan, begitupula aku mendapatkan waktu soreku dalam keadaan lapar tidak mendapatkan apa yang aku makan.”





Tidak ada komentar :
Speak Your Mind: