Terkadang kita meremehkan sebuah dosa maksiat dengan alasan yang tidak masuk akal, memang itu terjadi pada sebagian kita. Karna nafsu dan syahwat yang tak bisa terbendungkan. Bahkan kita mencari cari alasan untuk mendukung perbuatan dosa tersebut, walaupun kita mengetahui itu adalah sebuah kesalahan dan kekeliruan. Dengan menutup mata, telinga dan pura pura tidak tahu akan kesalahan tersebut.
Sering kali terjadi ketika mendengar nasihat dari orang lain, kita sepontan menilai nasihat tersebut dengan pandangan yang negatif. Dengan berperasangka yang tidak tidak, menilai orang yang menasehati dengan “sok alim” atau mengatakan “wah kayak orang yang tidak pernah berbuat dosa saja.” atau pandangan pandangan negatif lainnya.
Perlu diketahui bahwasanya seseorang tidak akan pernah lepas dari dosa dan kesalahan, siapapun orangnya, entah itu ustadz, kiai, tuan guru bahkan ulama-pun tidak pernah lepas dari yang namanya dosa dan kesalahan. Kecuali para Nabi, karna mereka maksum.
Maka ketahuilah.! perbedaan orang yang baik dan tidaknya, tidak dilihat dari pernah atau tidaknya ia berbuat dosa dan kesalahan. Tapi dilihat dari bagaimana dia menyikapi dosa dan kesalahan tersebut. Ada yang menyikapi kesalahan deh merasakan apa pun, dia merasa tenang tenang saja, dia tidak bertaubat bahkan perbuatanya itu semakin menjadi jadi.
Kesalahan yang sering kita lihat, bahkan kita juga tidak jarang melakukannya, Yaitu menjadikan kesalahan orang lain sebagai dalil atau alasan atas kesalahan yang telah kita perbuat. Terutama kesalahan orang yang terpandang baik dan memiliki kedudukan dalam masalah agama.
Benar, mereka melakukan kesalahan, tapi yang menjadi permasalahnya “kenapa hanya melihat kesalahan mereka saja seakan-akan tidak memiliki kebaikan sedikitpun?.” “kenapa hanya melihat ketika mereka berbuat kesalahan tersebut, kenapa tidak melihat setelah mereka bertaubat dan menyesali kesalahannya.?”.
Maka sadarlah!!!, jangan jadikan ukuran dalam menilai seseorang itu dari riwayat hidupnya, akan tetapi lihatlah ia sekarang ini. Karna semua orang memiliki masa lalu yang berbeda beda. Yang lalu biarlah berlalu. Jika baik kita tingkatkan dan jika buruk maka kita tinggalkan.
Jika kita berbuat dosa, kemudian dinasehati dan diingatkan oleh orang lain, maka terimalah dengan penuh rasa syukur dan berterima kasih dari siapapun dia. Karna kebaikan tidak dinilai baik sebab bersumber dari seseorang, tapi seseorang dinilai baik dan tidaknya dilihat dari apa yang ia sampaikan.
Orang yang senantiasa menasehati kita dikala mendapati kita salah, itulah orang yang benar benar mencintai kita karna Allah. Dan benar jujur dan tulus dalam mencintai kita. Bukan karna iming iming duniawi, atau sekedar cari muka.
Kalau terjatuh dan terjerumus dalam sebuah kesalahan dosa dan maksiat, bersegeralah untuk bertaubat dan kembali kepada Allah jangan ditunda tunda.
Semoga bermamfaat....
ngan bertaubat dan menyesal dengan perbuatanya tersebut. Namun ada orang yang sering berbuat dosa dan kesalaahan namun ia tidak pernaSering kali terjadi ketika mendengar nasihat dari orang lain, kita sepontan menilai nasihat tersebut dengan pandangan yang negatif. Dengan berperasangka yang tidak tidak, menilai orang yang menasehati dengan “sok alim” atau mengatakan “wah kayak orang yang tidak pernah berbuat dosa saja.” atau pandangan pandangan negatif lainnya.
Perlu diketahui bahwasanya seseorang tidak akan pernah lepas dari dosa dan kesalahan, siapapun orangnya, entah itu ustadz, kiai, tuan guru bahkan ulama-pun tidak pernah lepas dari yang namanya dosa dan kesalahan. Kecuali para Nabi, karna mereka maksum.
Maka ketahuilah.! perbedaan orang yang baik dan tidaknya, tidak dilihat dari pernah atau tidaknya ia berbuat dosa dan kesalahan. Tapi dilihat dari bagaimana dia menyikapi dosa dan kesalahan tersebut. Ada yang menyikapi kesalahan deh merasakan apa pun, dia merasa tenang tenang saja, dia tidak bertaubat bahkan perbuatanya itu semakin menjadi jadi.
Kesalahan yang sering kita lihat, bahkan kita juga tidak jarang melakukannya, Yaitu menjadikan kesalahan orang lain sebagai dalil atau alasan atas kesalahan yang telah kita perbuat. Terutama kesalahan orang yang terpandang baik dan memiliki kedudukan dalam masalah agama.
Benar, mereka melakukan kesalahan, tapi yang menjadi permasalahnya “kenapa hanya melihat kesalahan mereka saja seakan-akan tidak memiliki kebaikan sedikitpun?.” “kenapa hanya melihat ketika mereka berbuat kesalahan tersebut, kenapa tidak melihat setelah mereka bertaubat dan menyesali kesalahannya.?”.
Maka sadarlah!!!, jangan jadikan ukuran dalam menilai seseorang itu dari riwayat hidupnya, akan tetapi lihatlah ia sekarang ini. Karna semua orang memiliki masa lalu yang berbeda beda. Yang lalu biarlah berlalu. Jika baik kita tingkatkan dan jika buruk maka kita tinggalkan.
Jika kita berbuat dosa, kemudian dinasehati dan diingatkan oleh orang lain, maka terimalah dengan penuh rasa syukur dan berterima kasih dari siapapun dia. Karna kebaikan tidak dinilai baik sebab bersumber dari seseorang, tapi seseorang dinilai baik dan tidaknya dilihat dari apa yang ia sampaikan.
Orang yang senantiasa menasehati kita dikala mendapati kita salah, itulah orang yang benar benar mencintai kita karna Allah. Dan benar jujur dan tulus dalam mencintai kita. Bukan karna iming iming duniawi, atau sekedar cari muka.
Kalau terjatuh dan terjerumus dalam sebuah kesalahan dosa dan maksiat, bersegeralah untuk bertaubat dan kembali kepada Allah jangan ditunda tunda.
Semoga bermamfaat....





Tidak ada komentar :
Speak Your Mind: